PELACAKAN KASUS
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas Health Education

Oleh
RONALD BASTEN B P
NIM. 113063A09087
PROGRAM STUDI
SARJANA KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI
ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN
BANJARMASIN
2011
PELACAKAN KASUS
Bidan
koordinator KIA di puskesmas bunga baru saja menerima telepon dari pihak Dinas
Kabupaten bahwa Ny. B penduduk desa melati, yang termasuk wilayah kerja
puskesmas Bunga, meninggal di Rumah sakit Kabupaten saat melahirkan. Puskesmas Bunga
diminta untuk melakukan pelacakan kasus kematian ibu tersebut. Bidan koordinator
lantas meneruskan instruksi tersebut ke Ny. Kemuning, bidan desa merangkap
bidan desa Mawar. Ny. Kemuning sendiri tinggal di desa mawar sehingga ketika
menerima alamat Ny. B yang kurang lengkap, ia tidak tahu letak pasti rumah Ny.
B
Sepulang
dari tugas di Puskesmas, Ny. Kemuning berangkat untuk pelacakan kasus ke desa
Melati. Ny. Kemuning mengunjungi Kantor desa dengan tujuan menerima bantuan
pegawai kantor desa untuk menunjukan rumah Ny. B. Saat melihat data demografik
penduduk di Kantor desa, Ny. Kemuning menemukan ada dua bayi yang meninggal
pada bulan lalu, sementara data di Puskesmas, bulan lalu tidak ada kasus
kematian bayi di desa Melati. Terlintas dalam pikiran Ny. Kemuning bila ia
melaporkan hal ini ke Puskesmas maka pekerjaannya akan semakin banyak dan biaya
yang harus ia keluarkan untuk pelacakan juga akan semakin banyak.
Dengan
bantuan pegawai kantor desa, akhirnya Ny. Kemuning berhasil menemukan kediaman
keluarga Ny. B. Baru saja Ny. Kemuning mengeluarkan form pelacakan, tiba-tiba
ada yang menghubungi dan mengatakan akan segera dating ke Polides Desa Mawar
karena istrinya sudah akan melahirkan. Ny . Kemuning tidak bias menolak karena
suami pasien tersebut mendesak agar persalianan istrinya dibantu oleh Ny. Kemuning.
Ia kebinggungan untuk memutuskan pekerjaan mana yang harus didahulukan karena
keduanya merupakan tanggung jawabnya. Akhirnya pasien diminta menunggu di
Polides sementara Ny. Kemuning melaksanakan pelacakan kasus kematian Ny. B.
Pada keluarganya dengan terburu-buru.
Hasil
wawancara diserahkan Ny. Kemuning ke Kepala Puskesmas sebagai data pelacakan. Saat
membaca, Kepala Puskesmas tidak dapat mengambil kesimpulan penyebab kematian
karena datanya yang ada hanya berupa identifikasi atau kronologi kematian. Kepala
Puskesmas menyadari bahwa ia tidak bias menuntut lebih kepada bidan desa karena
tidak pernah diadakan pelatihan pelacakan, baik oleh pihak Puskesmas maupun
DinKes. Bahkan ia sendiri juga binggung, bagaimana idealnya pelacakan kasus
kematian ibu yang harus dilakukan. Kepala puskesmas bertanya-tanya apakah letak
kesalahannya pada tenanga pelaksana atau pada instrument yang kurang sensitife.
DISKUSI
1. Apakah kesan yang saudara tangkap
mengenai pelaksanaan pelacakan kematian di wilayah kerja Puskesmas Bunga ?
2.
Apa
saja kelemahan/permasalahan pelaksanaan pelacakan di wilayah Puskesmas Bunga ?
3.
Bagaimana
solusi yang saudara ajukan untuk perbaikan pelaksanaan pelacakan kematian di Puskesmas
Bunga ?
4. Bagaimana aplikasi computer bisa
memudahkan pelacakan kematian di Puskesmas Bunga ?
Penyelesaian
:
1. Kesan yang saya tangkap dari
kasus ini adalah Pada kasus ini banyak sekali kelemahan dan kekurangannya. Sehingga
hasil yang diharapkan oleh Puskesmas desa tidak sesuai yang dinginkan.
2.
Kelemahan/permasalahan
pelaksanaan pelacakan diwilayah Puskesmas Bunga adalah
a.
Ny.
Kemuning selaku bidan desa Mawar malahan tidak tahu alamat Ny. B padahal dalam
satu desa.
b.
Dalam
pelaksanaan pelacakan bidan desa Ny. Kemuning tidak dibekali dengan pelatihan pelacakan sehingga hasil yang
diharapkan oleh kepala Puskesmas kurang memuaskan, dan
c.
Ny.
Kemuning binggung dalam mengambil keputusan yang mana harus diprioritaskan
untuk dibantu apakah Pelacakan kasus atau ibu yang melahirkan, serta
d.
Yang
menjadi kelemahan dalam kasus ini adalah Ny. Kemuning menutup-menutupi data
kalau ada 2 bayi meninggal pada bulan lalu. Apabila dia melaporkannya ke
Puskesmas, puskesmas nanti akan mengambil kebijakan karena dia tidak ingin
pekerjaannya banyak dan biaya dikeluarkan semakin banyak juga.
3. Solusi dari saya sebaiknya para
bidan-bidan di desa itu harus dibekali pelatihan dalam melakukan suatu kasus
pelacakan sehingga apabila kedepannya menemui kasus seperti itu lagi data yang
diharapkan oleh Puskesmas desa dan Rumah sakit Kabupaten memuaskan , kemudian
Ny. Kemuning harus berkerja sama dengan perangkat desa dan mampu bermasyarakan/bergaul
dengan dengan penduduk setempat sehingga apabila kasus kematian bayi dia tahu.
Ny. Kemuning juga harus mengetahui suatu masalah yang mana menjadi prioritas
atau yang didahulukan menolong ibu melahirkan atau melaksanakan tugas dari
kepala Puskesmas, harus mampu menganalisa suatu kasus. Apabila menemui kasus jangan
ditutup-tutupi, nanti data yang dilaporkan itu akan menjadi kebijakan Puskesmas
sehingga tidak ada lagi bayi didesa mawar banyak yang meninggal.
4. Menurut saya dengan adanya Aplikasi
Komputer akan memudahkan pelacakan kematian di Puskesmas Bunga, sehingga data yang
diperoleh bisa langsung dikirim ke Rumah sakit Kabupaten.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dewasa
ini, epidemiologi banyak digunakan dalam analisis masalah gizi masyarakat.
Masalah ini erat hubungannya dengan berbagai faktor yang menyangkut pola hidup
masyarakat. Pendekatan masalah gizi masyarakat melalui epidemiologi gizi
bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang berhubungan erat dengan
timbulnya masalah gizi masyarakat, baik yang bersifat biologis, dan terutama
yang berkaitan dengan kehidupan social masyarakat. Penanggulangan masaah gizi
masyarakat yang disertai dengan surveilans gizi lebih mengarah kepada
penanggulangan berbagai faktor yang berkaitan erat dengan timbulnya masalah
tersebut dalam masyarakat dan tidak hanya terbatas pada sasaran individu atau
lingkungan keluarga saja.
Dari
berbagai contoh ruang lingkup penggunaan epidemiologi seperti tersebut diatas,
lebih memperjelas bahwa disiplin ilmu epidemiologi sebagai dasar filosofi dalam
usaha pendekatan analis masalah yang timbul dalam masyarakat, baik yang
bertalian dengan bidang kesehatan maupun masalah lain yang erat hubungannya
dengan kehidupan masyarakat secara umum.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Epidemiologi
adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan dari frekuensi penyakit
pada manusia. Epidemiologi mempelajari tentang distribusi penyakit berdasarkan
umur, jenis kelamin, geografi, dll. Epidemiologi mempelajari distribusi
penyakit berdasarkan faktor-faktor penyebab. Epidemiologi gizi adalah ilmu yang
mempelajari determinan dari suatu masalah atau kelainan gizi.
-
Mempelajari distribusi dan besarnya
masalah gizi pada populasi manusia.
-
Menguraikan penyakit dari masalah
gizi dan menentukan hubungan sebab akibat.
-
Memberikan informasi yang dibutuhkan
untuk merencanakan dan melaksanakan program pencegahan, kontrol dan
penanggulangan masalah gizi di masyarakat.
-
Menguraikan penyebab dari masalah
gizi dan menentukan hubungan sebab akibat.
Masalah
gizi dihubungkan dengan:
1.
Faktor dan penyebab masalah gizi
(agent).
2.
Faktor yang ada pada pejamu (host).
3.
Faktor yang ada di lingkungan pejamu
(environment)
4.
Menguraikan penyebab dari masalah
gizi dan menentukan hubungan sebab akibat :
-
Masalah gizi : kekurangan atau
kelebihan zat gizi
-
Agent: asupan makanan dan penyakit
yang dapat mempengaruhi status gizi serta faktor-faktor yang berkaitan
-
Host: karakteristik individu yang ada
kaitannya dengan masalah gizi (umur, jenis kelamin, suku bangsa, dll)
-
Environment: lingkungan (rumah,
pekerjaan, pergaulan) yang ada kaitannya dengan masalah gizi
Penggunaan epidemiologi gizi:
a.
Secara deskriptif mempelajari :
-
Siapa yang mempunyai masalah gizi
-
Kapan dan pada situasi-kondisi apa
yang bagaimana masalah gizi tersebut terjadi (biasanya digunakan data dari
klinik, laporan rutin ataupun hasil survey khusus)
b.
Secara analitik mempelajari :
Hubungan
kausal tertentu antara faktor penyebab dengan kejadian/kelainan yang
diakibatkannya (biasanya diperlukan penelitian khusus dengan rancangan kohort
ataupun kasus-kontrol)
c.
Secara intervensi mempelajari :
Dampak
ataupun efek dari suatu program yang telah di laksanakan untuk menanggulangi
masalah gizi. (biasanya dapat di manfaatkan untuk memperkuat perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi program/kebijakan gizi)
2.2 Rencana
studi epidemiologi gizi:
1.
Rancangan observasi
a.
Deskriptip:
-
Studi ekologi
-
Studi cross sectional
b.
Analitik:
-
Studi coss-cotrol
-
Studi kohort
2.
Rancangan eksperimen atau komuniti
trial
a. Field
trial
b. Clinical
trial
2.3 Rancangan
studi epidemiologi gizi:
a.
Studi ekologi contohnya:
Survey
rumah tangga (asupan makanan) dikaitkan dengan data-data kesehatan oleh BPS
b.
Studi cross-sectional atau studi prevalensi:
Untuk
mengetahui hubungan antara faktor-faktor penyebab dan kelainan gizi pada suatu
waktu dengan cara cepat dan murah (hubungan kausal)
c.
Studi case-kontrol
Untuk
membandingkan orang yang mengalami kelainan gizi (kasus) dengan orang yang
bebas kelainan gizi (kontrol) berdasarkan factor penyebab yang telah lalu
d.
Studi kohort
Dengan
menentukan factor penyebab terlebih dahulu kemudian mengikuti individu tersebut
untuk waktu tertentu diikuti akibat dari factor penyebab tersebut pada interval
waktu tertentu
e.
Studi eksperimen
Faktor
penyebab ditentukan dan dilihat efeknya.
2.4 Permasalahan
pada epidemiologi gizi :
-
Gizi atau status gizi sukar untuk
ditentukan secara langsung sehingga selama ini digunakan beberapa indikator
status gizi
-
Indikator status gizi tersebut
sering digunakan untuk bermacam tujuan
-
Masalah gizi merupakan akibat dari
banyak faktor sehingga program gizi dan penelitian gizi berkaitan dengan
disiplin ilmu lainnya.
2.5 Penggunaan
indikator status gizi:
-
Untuk melakukan penapisan individual
dalam program pencegahan malnutrisi (indikator untuk memprediksi malnutrisi)
-
Untuk mendiagnosis malnutrisi
(indikator untuk memprediksi resiko maupun manfaat dari intervensi gizi)
-
Untuk membandingkan hasil atau
memposisikan suatu populasi terhadap nilai norma/rujukan tertentu
-
Untuk mengevaluasi terapi/intervensi
gizi (indikator yang bereaksi terhadap terapi gizi). Pemilihan indikator yang
terbaik bergantung pada tujuan yang ingin dicapai.
2.6 Masalah
indikator status gizi:
-
Validitas data :
Mengukur
apa yang ingin di ukur (TB/U untuk masalah gizi kronis)
-
Reliabilitas data :
Seberapa
baik pengukuran dapat diulang
-
Sensitivitas data :
Menentukan
individu yang benar-benar sakit (high risk)
-
Spesifisitas data :
Menentukan
individu yang benar-benar sehat
-
Akurasi data :
Pengukuran
mendekati kebenaran
2.7 Ukuran-ukuran
dalam epidemiologi gizi:
1. Ukuran
untuk morbiditas dan mortalitas:
a. Rate,
rasio dan proporsi
b. Rate,
insidens dan prevalens
2. Indikator
kesehatan:
a. Indikator
dari penyebab khusus
b. Mortalitas
bayi dan bayi baru lahir.
c. Mortalitas
ibu
d. Umur
harapan hidup
2.8 Masalah
Gizi yang terjadi di Indonesia
A.
Gizi Buruk
Definisi
Gizi
Buruk suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau
dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata.
Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di
Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi
utama yang banyak dijumpai pada balita.
1. Penyebab
terjadinya gizi buruk
Orang akan
menderita gizi buruk jika tidak mampu untuk mendapat manfaat dari makanan yang
mereka konsumsi, contohnya pada penderita diare, nutrisi berlebih, ataupun
karena pola makan yang tidak seimbang sehingga tidak mendapat cukup kalori dan
protein untuk pertumbuhan tubuh.
Beberapa orang dapat menderita gizi buruk karena mengalami penyakit atau kondisi tertentu yang menyebabkan tubuh tidak mampu untuk mencerna ataupun menyerap makanan secara sempurna. Contohnya pada penderita penyakit seliak yang mengalami gangguan pada saluran pencernaan yang dipicu oleh sejenis protein yang banyak terdapat pada tepung yaitu gluten. Penyakit seliak ini mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi sehingga terjadi defisiensi. Kemudian ada juga penyakit cystic fibrosis yang mempengaruhi pankreas, yang fungsinya adalah untuk memproduksi enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan. Demikian juga penderita intoleransi laktosa yang susah untuk mencerna susu dan produk olahannya.
Beberapa orang dapat menderita gizi buruk karena mengalami penyakit atau kondisi tertentu yang menyebabkan tubuh tidak mampu untuk mencerna ataupun menyerap makanan secara sempurna. Contohnya pada penderita penyakit seliak yang mengalami gangguan pada saluran pencernaan yang dipicu oleh sejenis protein yang banyak terdapat pada tepung yaitu gluten. Penyakit seliak ini mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi sehingga terjadi defisiensi. Kemudian ada juga penyakit cystic fibrosis yang mempengaruhi pankreas, yang fungsinya adalah untuk memproduksi enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan. Demikian juga penderita intoleransi laktosa yang susah untuk mencerna susu dan produk olahannya.
2. Penyebab
secara langsung antara lain:
-
Penyapihan yang terlalu dini
-
Kurangnya sumber energi dan protein
dalam makanan TBC
-
Anak yang asupan gizinya terganggu
karena penyakit bawaan seperti jantung atau metabolisme lainnya.
-
Pola makan yang tidak seimbang
kandungan nutrisinya
-
Terdapat masalah pada sistem
pencernaan
-
Adanya kondisi medis tertentu
3. Penyebab
secara tidak langsung antara lain :
-
Daya beli keluarga rendah/ ekonomi
lemah
-
Lingkungan rumah yang kurang baik
-
Pengetahuan gizi kurang
-
Perilaku kesehatan dan gizi keluarga
kurang
4. Gejala-gejala
Gizi Buruk
Gizi buruk
dapat mempengaruhi kesehatan tubuh baik fisik dan mental. Semakin berat kondisi
gizi buruk yang diderita (semakin banyak nutrisi yang kurang) akan memperbesar
resiko terjadinya masalah kesehatan secara fisik.
Pada gizi buruk yang berat dapat terjadi kasus seperti marasmus (lemah otot) akibat defisiensi protein dan energi, kretinisme dan kerusakan otak akibat defisiensi yodium, kebutaan dan resiko terkena penyakit infeksi yang meningkat akibat defisensi vitamin A, sulit untuk berkonsentrasi akibat defisiensi zat besi.
Pada gizi buruk yang berat dapat terjadi kasus seperti marasmus (lemah otot) akibat defisiensi protein dan energi, kretinisme dan kerusakan otak akibat defisiensi yodium, kebutaan dan resiko terkena penyakit infeksi yang meningkat akibat defisensi vitamin A, sulit untuk berkonsentrasi akibat defisiensi zat besi.
5. Gejala
Umum Dari Gizi Buruk Adalah :
1. Kelelahan
dan kekurangan energy
2. Pusing
3. Sistem
kekebalan tubuh yang rendah (yang mengakibatkan tubuh kesulitan untuk melawan
infeksi)
4. Kulit
yang kering dan bersisik
5. Gusi
bengkak dan berdarah
6. Gigi
yang membusuk
7. Sulit
untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat
8. Berat
badan kurang
9. Pertumbuhan
yang lambat
10. Kelemahan
pada otot
11. Perut
kembung
12. Tulang
yang mudah patah
13. Terdapat
masalah pada fungsi organ tubuh
6. Tanda – tanda Gizi buruk secara umum
1. Berat
Badan di bawah normal
2. Rambut
pirang. Kering kusam
3. Pertumbuhan
otak terhambat
4. Badan
nya lemas
5. Matanya
Cekung
6. Perut
buncit
7. Tidak
nafsu makan
8. Rabun
Senja
7. Dampak
gizi buruk pada anak terutama balita
1. Pertumbuhan
badan dan perkembangan mental anak sampai dewasa terhambat.
2. Kekurangan
Vitamin A dapat menyebabkan Rabun Senja
3. Daya
tahan tubuh Lamah
4. Mudah
terkena penyakit ispa, diare, dan yang lebih sering terjadi.
5. Zat
antibody tidak sempurna
6. Jika
terinfeksi sukar sembuh serta mudah berkomplikasi
7. Rentan
terhadap penyakit TBC
8. Bisa
menyebabkan kematian bila tidak dirawat secara intensif.
8. Indikasi
Gizi Buruk
Untuk KEP
ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi
badan yang tampak kurus. Sedangkan
gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi
tiga tipe:
1. Kwashiorkor
2. Marasmus
3. Marasmus-kwashiorkor.
1. Kwashiorkor
adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada
usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi. Meski penyebab
utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang
dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang
berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
Ciri –
ciri kwashiorkor :
-
Edema (pembengkakan), umumnya
seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab
-
Pandangan mata sayu
-
Rambut tipis kemerahan seperti warna
rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok
-
Terjadi perubahan status mental
menjadi apatis dan rewel
-
Terjadi pembesaran hati
-
Oot mengecil (hipotrofi), lebih
nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
-
Terdapat kelainan kulit berupa
bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu
terkelupas (crazy pavement dermatosis)
-
Serng disertai penyakit infeksi yang
umumnya akut
-
Anemia dan diare
2. Marasmus
adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh
terpakai sehingga anak menjadi “kurus” dan “emosional”. Sering terjadi pada
bayi yang tidak cukup mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya,
atau terjadi pada bayi yang sering diare.
Ciri -
ciri marasmus :
-
Badan nampak sangat kurus seolah-olah
tulang hanya terbungkus kulit
-
Wajah seperti orang tua
-
M udah menangis/cengeng dan rewel
-
Kulit menjadi keriput
-
Jaringan lemak subkutis sangat
sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar
-
Perut cekung, dan iga gambang
-
Seringdisertai penyakit infeksi
(umumnya kronis berulang)
-
Diare kronik atau konstipasi (susah
buang air)
3. Ciri
– ciri marasmus-kwashiorkor
Memiliki
ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai
edema yang tidak mencolok.
A. Cara
Mengukur Status Gizi Anak
Banyak
cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak.
B. Cara
pencegahan
Menimbang
begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan
kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang
dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa
cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak :
1. Memberikan
ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai
dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan
tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun
2. Anak
diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak,
vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari
total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3. Rajin
menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati
apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai,
segera konsultasikan hal itu ke dokter.
4. Jika
anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada
petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah
sakit.
5. Jika
anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang
tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya
bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu
meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting
lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi
yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan
secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang
permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
C. Cara
Penanggulangan Gizi Buruk
1. Biasakan
makan –makanan gizi yang seimbang.
2. Mengatur
pola makan balita.
3. Konsumsi
Vitamin A seperti susu, ikan goring, hati, sayur hijau, dan kuning.
4. Konsumsi
Vitamin B 12 seperti kedelai, telur, keju,daging, tempe, dll
4. Obesitas
adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan
akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh. Merupakan keadaan
patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang
diperlukan untuk fungsi tubuh. Gizi lebih (over weight) dimana berat badan
melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik dengan obesitas.
a. Penyebab
-
Perilaku makan yang berhubungan
dengan faktor keluarga dan lingkungan
-
Aktifitas fisik yang rendah
-
Gangguan psikologis (bisa sebagai
sebab atau akibat)
-
Laju pertumbuhan yang sangat cepat
-
Genetik atau faktor keturunan
-
Gangguan hormone
b. Gejala
-
Terlihat sangat gemuk
-
Lebih tinggi dari anak normal seumur
-
Dagu ganda
-
Buah dada seolah-olah berkembang
-
Perut menggantung
-
Penis terlihat kecil
c. Terdapat
2 golongan obesitas
-
Regulatory obesity, yaitu gangguan
primer pada pusat pengatur masukan makanan
-
Obesitas metabolik, yaitu kelainan
metabolisme lemak dan karbohidrat
d. Resiko/dampak
obesitas
-
Gangguan respon imunitas seluler
-
Penurunan aktivitas bakterisida
-
Kadar besi dan seng rendah
e. Penatalaksanaan
-
Menurunkan BB sangat drastis dapat
menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas sedang, adakalanya penderita tidak
memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga latihan fisik yang
intensif menjadi pilihan utama
-
Pada obesitas berat selain latihan
fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi dikurangi, dan tubuh mengambil
kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan, dimana diet harus
tetap mengandung zat gizi esensial.
-
Kurangi asupan energi, akan tetapi
vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah perilaku makan
-
Mengatasi gangguan psikologis
-
Meningkatkan aktivitas fisik
-
Membatasi pemakaian obat-obatan yang
untuk mengurangi nafsu makan
-
Bila terdapat komplikasi, yaitu
sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah sakit
-
Konsultasi (psikologi anak atau
bagian endokrin)
5. ANEMIA
Anemia
defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa
bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit. Keadaan dimana kadar
hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan eritrosit lebih rendah dari nilai normal,
akibat defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang
dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Macam-macam anemia :
1. Anemia
defisiensi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa
hemoglobin.
2. Anemia
megaloblastik adalah terjadinya penurunan produksi sel darah merah yang matang,
bisa diakibatkan defisiensi vitamin B12
3. Anemia
aplastik adalah anemia yang berat, leukopenia dan, hipoplastik atau aplastik
1. ANEMIA
DEFISIENSI BESI
-
Prevalensi tertinggi terjadi
didaerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi
-
Hasil studi menunjukan bahwa anemia
pada masa bayi mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak
permanen
-
Defisiensi zat besi menurunkan
jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunnya kemampuan berfikir
serta perubahan tingkah laku.
a. Ciri
-
Akan memperlihatkan respon yang baik
dengan pemberian preparat besi
-
Kadar Hb meningkat 29% setiap 3
minggu
b. Tanda
dan gejala
-
Pucat (konjungtiva, telapak tangan,
palpebra)
-
Lemah
-
Lesu
-
Hb rendah
-
Sering berdebar
-
Papil lidah atrofi
-
Takikardi
-
Sakit kepala
-
Jantung membesar
c. Dampak
-
Produktivitas rendah
-
SDM untuk generasi berikutnya rendah
d. Penyebab
Sebab
langsung
-
Kurang asupan makanan yang
mengandung zat besi
-
Mengkonsumsi makanan penghambat
penyerapan zat besi
-
Infeksi penyakit
Sebab tidak langsung
-
Distribusi makanan yang tidak merata
ke seluruh daerah sebab mendasar
-
Pendidikan wanita rendah
-
Ekonomi rendah
-
Lokasi ggeografis (daerah endemis
malaria)
e. Kelompok
sasaran prioritas
-
Ibu hamil dan menyusui
-
Balita
-
Anak usia sekolah
-
Tenaga kerja wanita
-
Wanita usia subur
f. Penanganan
-
Pemberian Komunikasi,informasi dan
edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun menyusui
-
Pembekalan KIE kepada kader dan
orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita
-
Pembekalan KIE kepada guru dan
kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta
pemeberian suplemen tambahan kepada anak sekolah
-
Pembekalan KIE pada perusahaan dan
tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada tenaga kerja wanita
-
Pemberian KIE dan suplemen dalam
bentuk pil KB kepada wanita usia subur (WUS)
6. DEFISIENSI
VITAMIN A
Prevalensi
tertinggi terjadi pada balita
a. Penyebab
-
Intake makanan yang mengandung
vitamin A kurang atau rendah
-
Rendahnya konsumsi vitamin A dan pro
vitamin A pada bumil sampai melahirkan akan memberikan kadar vitamin A yang
rendah pada ASI
-
MP-ASI yang kurang mencukupi
kebutuhan vitamin A
-
Gangguan absorbsi vitamin A atau pro
vitamin A (penyakit pankreas, diare kronik, KEP dll)
-
Gangguan konversi pro vitamin A
menjadi vitamin A pada gangguan fungsi kelenjar tiroid
-
Kerusakan hati (kwashiorkor,
hepatitis kronik)
b. Sifat
-
Mudah teroksidasi
-
Mudah rusak oleh sinar ultraviolet
-
Larut dalam lemak
c. Tanda
dan gejala
-
Rabun senja-kelainan mata, xerosis
konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea
-
Kadar vitamin A dalam plasma
<20ug/dl
d. Tanda
hipervitaminosis Akut
-
Mual, muntah
-
Fontanela meningkat Kronis
-
Anoreksia
-
Kurus
-
Cengeng
-
Pembengkakan tulang
e. Upaya pemerintah
-
Penyuluhan agar meningkatkan
konsumsi vitamin A dan pro vitamin A
-
Fortifikasi (susu, MSG, tepung
terigu, mie instan)
-
Distribusi kapsul vitamin A dosis
tinggi pada balita 1-5 tahun (200.000 IU pada bulan februari dan agustus), ibu
nifas (200.000 IU), anak usia 6-12 bulan (100.000 IU)
-
Kejadian tertentu, ditemukan buta
senja, bercak bitot. Dosis saat ditemukan (200.000 IU), hari berikutnya
(200.000 IU) dan 4 minggu berikutnya (200.000 IU)
-
Bila ditemukan xeroptalmia. Dosis
saat ditemukan :jika usia >12 bulan 200.000 IU, usia 6-12 bulan 100.000 IU,
usia < 6 bulan 50.000 IU, dosis pada hari berikutnya diberikan sesuai usia
demikian pula pada 1-4 minggu kemudian dosis yang diberikan juga sesuai usia
-
Pasien campak, balita (200.000 IU),
bayi (100.000 IU)
f. Catatan
-
Vitamin A merupakan nutrient
esensial, yang hanya dapat dipenuhi dari luar tubuh, dimana jika asupannya
berlebihan bisa menyebabkan keracunan karena tidak larut dalam air
-
Gangguan asupan vitamin A bisa
menyebabkan morbili, diare yang bisa berujung pada morbiditas dan mortalitas,
dan pneumonia
7. GANGGUAN
AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)
Adalah
sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan
yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama.
-
Merupakna masalah dunia
-
Terjadi pada kawasan pegunungan dan
perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium
-
Defisiensi yang berlangsung lama
akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan menyebabkan
pembesaran kelenjar gondok
a. Dampak
-
Pembesaran kelenjar gondok
-
Hipotiroid
-
Kretinisme
-
Kegagalan reproduksi
-
Kematian
b. Defisiensi
pada janin
-
Dampak dari kekurangan yodium pada
ibu
-
ningkatkan insiden lahir mati,
aborsi, cacat lahir
-
Terjadi kretinisme endemis
-
Jenis syaraf (kemunduran mental,
bisu-tuli, diplegia spatik)
-
Miksedema (memperlihatkan gejala
hipotiroid dan dwarfisme)
c. Defisiensi
pada BBL
-
Penting untuk perkembangan otak yang
normal
-
Terjadi penurunan kognitif dan
kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun pada mereka yang dilahirkan dari
wanita yang mengalami defisiensi yodium
d. Defisiensi
pada anak
-
Puncak kejadian pada masa remaja
-
Prevalensi wanita lebih tinggi dari
laki-laki
-
Terjadi gangguan kinerja belajar dan
nilai kecerdasan
e. Klasifikasi
tingkat pembesaran kelenjar menurut WHO (1990)
-
Tingkat 0 : tidak ada pembesaran kelenjar
-
Tingkat IA : kelenjar gondok
membesar 2-4x ukuran normal, hanya dapat diketahui dengan palpasi, pembesaran
tidak terlihat pada posisi tengadah maksimal
-
Tingkat IB : hanya terlihat pada
posisi tengadah maksimal
-
Tingkat II : terlihat pada posisi kepala
normal dan dapat dilihat dari jarak ± 5 meter
-
Tingkat III : terlihat nyata dari
jarak jauh
f. Sasaran
-
Ibu hamil
-
WUS
g. Dosis
dan kelompok sasaran pemberian kapsul
-
Bayi < 1tahun : 100 mg
-
Balita 1-5 tahun : 200 mg
-
Wanita 6-35 tahun : 400 mg
-
Ibu hamil (bumil) : 200 mg
-
Ibu meneteki (buteki) : 200 mg
-
Pria 6-20 tahun : 400 mg
h. GAKY
tidak berhubungan denga tingkat sosek melainkan dengan geografis Spektrum gangguan
akibat kekurangan yodium
-
Fetus : abortus, lahir mati,
kematian perinatal, kematian bayi, kretinisme nervosa (bisu tuli, defisiensi
mental, mata juling), cacat bawaan, kretinisme miksedema, kerusakan psikomotor
-
Neonatus : gangguan psikomotor,
hipotiroid neonatal, gondok neonates
-
Anak dan remaja : gondok, hipotiroid
juvenile, gangguan fungsi mental (IQ rendah), gangguan perkembangan
-
Dewasa : gondok, hipotiroid,
gangguan fungsi mental, hipertiroid diimbas oleh yodium
-
Sumber makanan beryodium yaitu
makanan dari laut seperti ikan, rumput laut dan sea food. Sedangkan penghambat
penyerapan yodium (goitrogenik) seperti kol, sawi, ubi kayu, ubi jalar, rebung,
buncis, makanan yang panas, pedas dan rempah-rempah.
Pencegahan/penanggulangan
-
Fortifikasi : garam
-
Suplementasi : tablet, injeksi
lipiodol, kapsul minyak beryodium
BAB III
KESIMPULAN
Pendekatan masalah gizi masyarakat
melalui epidemiologi gizi bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang
berhubungan erat dengan timbulnya masalah gizi masyarakat, baik yang bersifat
biologis, dan terutama yang berkaitan dengan kehidupan social masyarakat. Penanggulangan
masaah gizi masyarakat yang disertai dengan surveilans gizi lebih mengarah
kepada penanggulangan berbagai faktor yang berkaitan erat dengan timbulnya
masalah tersebut dalam masyarakat dan tidak hanya terbatas pada sasaran
individu atau lingkungan keluarga saja. Epidemiologi gizi adalah ilmu yang
mempelajari determinan dari suatu masalah atau kelainan gizi.
-
Mempelajari distribusi dan besarnya
masalah gizi pada populasi manusia.
-
Menguraikan penyakit dari masalah
gizi dan menentukan hubungan sebab akibat.
-
Memberikan informasi yang dibutuhkan
untuk merencanakan dan melaksanakan program pencegahan, kontrol dan
penanggulangan masalah gizi di masyarakat.
-
Menguraikan penyebab dari masalah
gizi dan menentukan hubungan sebab akibat.
-
Masalah gizi dihubungkan dengan :
-
Faktor dan penyebab masalah gizi
(agent)
-
Faktor yang ada pada pejamu (host)
-
Faktor yang ada di lingkungan pejamu
(environment)
DAFTAR PUSTAKA
Budiarto,
Dr. Eko, SKM. 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: EGC.
Nasry
Noor, Prof. Dr. Nur, M.PH. 2008. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/24/masalah-masalah-gizi-di-indonesia-2/